
Pekerjaan berorientasi skill seperti pemograman yang dulu tersulit dari pekerjaanmu, sekarang bisa diselesaikan AI dengan sekejap. Kalau yang rumit sudah menjadi mudah, apa nilai yang tersisa dari seorang developer? Buku ini adalah sebuah catatan curhatan seorang developer korporat yang melewati krisis itu, lalu menyusun ulang apa yang bikin pekerjaannya masih bernilai.
Tiap bab menyandarkan argumennya pada riset dan buku yang sudah teruji.
Kamu software developer yang mulai bertanya mau ke mana arahnya, sejak AI bikin sebagian besar kerjaanmu jadi enteng. Kamu juga ogah terjebak pada satu teknologi yang lagi ramai, karena yang ramai selalu berganti. Persis yang penulis rasakan sepanjang menulis buku ini.
Kamu masih sibuk memperdebatkan teknologi mana yang terbaik untuk dipakai saat ini.
Siklus kerja pengembangan perangkat lunak yang mendasari hampir semua pekerjaan developer. Di tiap fasenya ada esensi yang menaikkan nilai intrinsikmu sebagai developer, jadi kerjamu tidak berhenti di sekadar membangun.
Geser kartunya, atau ketuk angkanya
Siklus kerja pengembangan perangkat lunak yang mendasari hampir semua pekerjaan developer. Di tiap fasenya ada esensi yang menaikkan nilai intrinsikmu sebagai developer, jadi kerjamu tidak berhenti di sekadar membangun.
Perspektif penulis soal sisi pengelolaan sumber daya yang paling sering diabaikan sambil mengejar teknologi baru: dirimu sendiri, orang-orang yang bekerja bersamamu, dan cara pikirmu saat tekanan kerja naik.
Pandangan penulis terhadap AI dan apa yang ia rasakan selama memakainya sejauh ini. Dari pengalaman itu dirangkum esensi dasar yang perlu dipegang developer saat mengadopsi teknologi ini, supaya kamu tidak kehilangan arah atas nilai intrinsikmu sendiri.
Mulai dari bab pertama dan lanjut berurutan sampai bab terakhir. Urutannya sengaja disusun begitu karena tiap bab menumpang pada bab sebelumnya.
Begitu satu bab selesai, pindai QR code-nya pakai Google Lens atau aplikasi pemindai QR code apa pun yang ada di ponselmu.
QR code itu membawamu ke sebuah website sumber belajar yang membahas studi kasus dari bab yang baru saja kamu baca.
Tuntaskan bacaan di website itu, baru lanjut ke bab berikutnya di buku. Bab berikutnya menganggap kamu sudah melewati bagian ini.
Pola yang sama berlaku untuk bab-bab setelahnya: baca satu bab, pindai, kerjakan studi kasusnya, lalu kembali.
Geser ke kanan untuk langkah berikutnya
Mulai dari bab pertama dan lanjut berurutan sampai bab terakhir. Urutannya sengaja disusun begitu karena tiap bab menumpang pada bab sebelumnya.
Begitu satu bab selesai, pindai QR code-nya pakai Google Lens atau aplikasi pemindai QR code apa pun yang ada di ponselmu.
QR code itu membawamu ke sebuah website sumber belajar yang membahas studi kasus dari bab yang baru saja kamu baca.
Tuntaskan bacaan di website itu, baru lanjut ke bab berikutnya di buku. Bab berikutnya menganggap kamu sudah melewati bagian ini.
Pola yang sama berlaku untuk bab-bab setelahnya: baca satu bab, pindai, kerjakan studi kasusnya, lalu kembali.
Bagian Isi Buku di halaman ini sudah merangkum tiga bagiannya. Yang mungkin belum kelihatan dari situ adalah dari mana buku ini lahir. Penulis sempat melewati masa ketika menulis kode masih benar-benar mengandalkan logika sendiri, mentok, coba lagi, gagal berkali-kali sebelum ketemu solusi. Skill itu didapat dengan susah payah, bertahun-tahun. Lalu AI datang, dan hal yang dulu butuh waktu bertahun-tahun untuk dikuasai sekarang bisa dihasilkan dalam hitungan detik lewat satu perintah. Titik itu yang bikin penulis sempat kehilangan arah, harus fokus ke mana lagi kalau hard skill yang diperjuangkan susah payah ternyata bisa diraih siapa saja secara instan. Buku ini adalah jawaban yang ditemukan penulis dari pertanyaan itu.

Hai, saya Darmawan, saat ini bekerja sebagai project lead di sebuah perusahaan dengan tim development yang sangat ramping. Perjalanan saya di dunia development dimulai dari bangku kuliah informatika, sempat tersesat mengejar teknologi yang sedang tren tanpa benar-benar memahami fondasi di baliknya, sampai akhirnya pengalaman kerja bertahun-tahun mengajarkan saya sebaliknya.
Saya bukan menulis buku ini dari posisi sudah sampai atau sudah menguasai semuanya. Saya menulis dari posisi yang masih berjalan di jalan yang sama denganmu, mencoba memahami cara berpikir yang benar-benar tahan lama di tengah industri yang terus berubah cepat, apalagi sekarang dengan AI yang ikut mengubah banyak hal. Semua yang kamu baca di buku ini lahir dari pengalaman nyata saya, bukan teori yang saya pelajari dari jauh.